”Manusia Jahat”, Refleksi Kasus Atu Lintang

Posted on Juni 24, 2008. Filed under: Politik |

 

Oleh: Yusdinur Usman Musa

Walaupun sudah berlalu, kasus pembakaran kantor dan pembunuhan dengan sadis lima anggota KPA wilayah Linge di Kecamatan Atu Lintang, Aceh Tengah masih mengiang ditelinga kita. Kasus tersebut seketika menyentak ketenangan masyarakat ditengah kedamaian yang baru seumur jagung yang dirasakan oleh masyarakat Aceh. Barangkali, banyak yang bertanya-tanya, mengapa kesadisan dan kekejaman seperti itu masih ada di sekitar kita? Tidak adakah cara lain yang lebih baik dalam menyelesaikan konflik dan sengketa di antara kelompok masyarakat? Apakah nilai-nilai kemanusiaan, kasih sayang, saling tolong-menolong diantara sesama, dan nilai-nilai luhur kebijaksanaan sudah hilang dalam masyarakat kita? Sehingga kekerasan yang sadis menjadi satu-satunya pilihan penyelesaian dari masalah yang muncul di dalam masyarakat.
Saya jadi teringat kepada seorang ahli psikoanalis terkenal Sigmund Freud (1856-1939), yang suatu ketika ditanya seseorang, apakah tabiat manusia itu baik atau jahat. Dengan tegas Freud menjawab: jahat. Dalam bukunya Civilization and its Discontents, ia menulis: “manusia bukanlah makhluk yang lemah lembut dan bersahabat, yang ingin menyayangi, dan hanya mempertahankan diri bila diserang…tetapi sejumlah keinginan yang kuat untuk bertindak agresif harus diakui sebagai watak manusia yang asli. Akibatnya ialah, tetangganya buat mereka bukan hanya calon pembantu atau obyek seksual, tetapi juga godaan untuk memenuhi hasrat agresifnya…untuk dirampas hartanya, untuk dihina, untuk disakiti, disiksa, dan dibunuh…”.
Pendapat Freud ini juga didukung oleh ahli sejarah Arnold J. Toynbee (1889-1975), yang menggunakan perspektif sejarah menyatakan bahwa ”There is a persistent vein of violence and cruelty in human nature”. Tidak henti-hentinya ada getaran kekerasan dan kekejaman pada tabiat manusia. Kalangan zoologis khususnya Robert Ardrey dalam ”African Genesis” menambahkan bahwa ”manusia adalah binatang buas yang naluri alamiahnya adalah membunuh dengan senjata. Kaum empirisisme juga menyatakan bahwa disamping agresif, manusia juga rakus dan mementingkan diri sendiri.
Kalau kita melihat kilas balik pembunuhan sadis anggota KPA wilayah Linge oleh sekelompok orang, maka apa yang dikatakan Freud, Toynbee maupun Ardrey tentang watak dan tabiat manusia terasa ada benarnya. Bahwa sekelompok orang yang melakukan pembakaran dan pembunuhan sadis terhadap anggota KPA tersebut sudah termasuk kategori ”jahat”, yang menggunakan hasrat agresifnya untuk menyiksa dan membunuh orang-orang atau pihak lain yang menghalangi kepentingannya, terlepas kepentingan apa dibalik tindakan jahat tersebut, apakah kepentingan politis, atau murni kepentingan ekonomi dalam perebutan lahan parkir di Takengon.
Kalau demikian, bukankah sekelompok masyarakat yang membunuh tersebut mempunyai karakteristik yang sama dengan binatang? ”Benar! Dan tidak ada bedanya antara karakteristik manusia dengan binatang”, kata Freud. Seperti binatang, manusia adalah makhluk yang digerakkan oleh mekanisme asosiasi diantara sensasi-sensasi, atau makhluk yang tunduk pada hukum gerak, sebuah mesin otomatis tanpa jiwa; atau makhluk yang digerakkan oleh naluri biologis, mengejar kesenangan dan menghindari hal-hal yang tidak mengenakkan.
Lain lagi kalangan eksistensialis (Sartre dan Tillich) yang menyatakan bahwa manusia berbeda dari binatang karena ia mampu menyadari bahwa ia bertanggung jawab terhadap tindakan-tindakan yang dilakukannya. Dan kaum psikologi humanistik melihat kelebihan manusia juga karena ada kebutuhan untuk mengembangkan diri sampai bentuk yang ideal, dan manusia juga makhluk yang unik: rasional, bertanggung jawab dan memiliki kesadaran.
Pertanyaannya, benarkah manusia itu makhluk yang bertanggung jawab yang membedakannya dari binatang? Bagaimana dengan anjing yang setia menunggu tuannya dan siap menerkam orang yang membahayakan majikannya? Atau bagaimana dengan induk ayam yang melebarkan sayapnya ketika merasa anaknya terancam? Bukankan anjing dan ayam tersebut sangat bertanggung jawab? Apakah dengan demikian, sekelompok orang yang membunuh anggota KPA wilayah Linge dengan sadis dan kejam tersebut bisa dikatakan tidak bertanggung jawab, sehingga mereka sama dengan binatang yang prilakunya digerakkan oleh naluri biologis, termasuk prilaku membunuh?
Intelektual Iran, Murtadha Mutahhari (1919-1979) dalam bukunya ”Manusia menurut Al-Qur’an” mengatakan bahwa manusia sebetulnya adalah makhluk yang paradoksal. Pada dirinya terdapat sifat-sifat baik dan sifat-sifat jahat sekaligus. Tetapi sifat-sifat itu hanyalah hal-hal yang potensial. Berdasarkan potensi-potensi yang dimilikinya, manusia harus membentuk dirinya. Kemampuan membentuk dirinya adalah khas manusia, tidak ada makhluk lain yang memiliki kemampuan seperti itu. Dalam perspektif lain, Mutahhari juga menyebutkan bahwa iman dan ilmu adalah karakteristik kemanusiaan. Iman tanpa ilmu akan mengakibatkan fanatisme dan kemunduran, takhyul dan kebodohan. Ilmu tanpa iman akan digunakan untuk memuaskan kerakusan, kepongahan, ambisi, penindasan, penipuan, kecurangan, dan pembunuhan. Karena itulah—kata Mutahhari—Islam adalah satu-satunya agama yang memadukan antara iman dan ilmu (sains).
Barangkali, Mutahhari belum menjawab pertanyaan mengapa prilaku sadis dan kejam ada pada sekelompok masyarakat yang membunuh anggota KPA wilayah Linge kecuali menyatakan bahwa ada sifat-sifat jahat pada manusia itu atau imannya lemah. Karena itu, kita perlu bertanya ”apakah manusia bebas berkehendak atau ditentukan oleh kekuatan lain? Ini adalah pertanyaan yang sulit. Di dunia Islam, pertanyaan ini telah membelah umat menjadi dua mazhab teologis: Qadariyah dan Jabariah. Di dunia Barat, pertanyaan yang sama telah melahirkan dua pemikiran: Determinisme dan Free Will. Determinisme beranggapan bahwa prilaku manusia ditentukan oleh kekuatan-kekuatan diluar kemauan manusia. Kekuatan-kekuatan itu boleh jadi kekuatan lingkungan sosio kultural, warisan genetis, dorongan naluriah, atau kekuatan supranatural. Free Will sebaliknya, mempunyai asumsi bahwa manusia dapat mengendalikan nasibnya, dapat memilih alternatif yang tersedia dan menetapkan keputusan seperti yang dikehendakinya.
Kalau kita hubungkan dengan kasus pembunuhan di kecamatan Atu Lintang, maka pendekatan determinisme menyebutkan bahwa prilaku jahat, sadis dan kejam sekelompok masyarakat yang membunuh dan membakar anggota KPA wilayah Linge disebabkan oleh berbagai faktor/kekuatan yang ada di luar kemauan mereka. Artinya, ada kemungkinan bahwa ada kekuatan intelektual, politik atau ekonomi di belakang mereka yang berperan dalam mendorong terjadinya pembunuhan sadis tersebut. Untuk mengetahui motif dibalik peristiwa tersebut, kita harus menunggu hasil investigasi yang sedang dilakukan oleh polisi. Kalau dihubungkan dengan sosio kultural, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menjawab apakah ada faktor budaya yang membentuk watak sekelompok masyarakat tersebut sehingga berprilaku kejam dan sadis. Demikian juga kalau kita hubungkan dengan faktor-faktor deterministik lainnya.
Sebaliknya kalau kita kaitkan dengan pendekatan Free Will, maka prilaku sadis yang dipraktekkan sekelompok anggota masyarakat tersebut murni kehendak bebas mereka. Merekalah yang menentukan nasib mereka sendiri karena itu bebas berkehendak melakukan apa saja untuk mempertahankan nasib dan eksistensi mereka. Dengan kata lain, prilaku sadis tersebut murni persoalan kriminal yang tidak ada sangkut pautnya dengan persoalan politik dan konflik yang terjadi antar pihak di Aceh Tengah.
Ditengah kesulitan mencari jawaban mengapa prilaku sadis dan tidak bertanggung jawab tersebut terjadi di tengah masyarakat Aceh yang sedang menikmati perdamaian, maka pendapat Mutahhari barangkali bisa kita kombinasikan dengan pendekatan determinisme dan free will. Bahwa ada sifat jahat dan baik sekaligus dalam sekelompok pembunuh tersebut, tetapi sifat jahatlah yang lebih menonjol sehingga mereka berbuat seperti itu. Disamping itu, tindakan mereka juga kemungkinan ditentukan oleh adanya kekuatan lain dibelakang mereka, yang menggunakan cara kekerasan untuk mencapai tujuan yang ada. Sementara dalam pribadi-pribadi kelompok masyarakat yang membunuh tersebut juga ada kehendak bebas mereka sehingga melahirkan prilaku sadis dan kejam dalam tindakan mereka.
Di tengah suasana damai yang baru berlangsung seumur jagung ini, tindakan ”manusia jahat” tersebut tentu menjadi noda yang mengotori perdamaian di Aceh. Dan patut diacungi jempol bahwa kedewasaan sikap dan keikhlasan yang ditunjukkan oleh anggota dan pimpinan KPA memperlihatkan sebuah prilaku rasional yang bertanggung jawab, dan dominannya sifat-sifat baik yang dipraktekkan dalam suasana damai ini. Prilaku rasional, bersahabat dan bertanggung jawab seperti ini perlu terus dipelihara oleh semua pihak dalam rangka mewujudkan perdamaian abadi di Aceh. ”Jangan ada dusta diantara kita”.

Yusdinur Usman Musa adalah pemerhati masalah sosial dan peneliti pada Centre for Strategic and Policy Studies (CENTRALs) Banda Aceh. Catatan: beberapa ide utama dalam tulisan ini merujuk pada artikel Jalaluddin Rahmat ”Mutahhari: Sebuah Model buat para Ulama (1984)”

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: