Pajak Nanggroe, Teror, Intimidasi dll, Sebagai Hadiah MoU Helsinki

Posted on Agustus 17, 2008. Filed under: Politik |

Jumat, 10-08-2007 11:24:15 oleh: Bustaman Al Rauf
Kanal: Opini

 

Ada dua momen penting yang perlu diperhatikan serta diikuti secara seksama di Provinsi NAD, karena bisa jadi menggambarkan situasi yang sangat berbeda di Provinsi NAD. Kedua momen penting tersebut adalah peringatan penandatanganan 2 (dua) tahun MoU Helsinki pada 15 Agustus 2007 serta HUT Kemerdekaan RI ke 62 tanggal 17 Agustus 2007.

Mengapa bisa menggambarkan situasi yang berbeda? Bisa jadi peringatan MoU Helsinki pada 15 Agustus 2007 akan lebih meriah dibandingkan peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-62. Konon, sudah banyak beredar informasi bahwa KPA/GAM akan mengibarkan bendera GAM dalam rangka memperingati 2 tahun MoU Helsinki, yang kemudian besar akan dilakukan di wilayah perbatasan Bener Meriah-Bireuen, Pintu Rime Gayo ataupun di daerah Gayo Lues dan Aceh Tengah. Tidak hanya itu saja, salah seorang petinggi GAM wilayah Pase menurut informasi yang diterima penulis bahkan telah memerintahkan Kepala Desa/Keuchik untuk mengibarkan bendera GAM pada tanggal 15 Agustus 2007 dan 17 Agustus 2007, serta melarang mengikuti peringatan HUT Kemerdekaan RI.

Kemudian pertanyaan besar kita sebagai warga Aceh adalah apakah MoU Helsinki sudah memberikan “perdamaian” yang benar-benar hakiki ataukah keadaan sekarang ini di Aceh “bagaikan api dalam sekam”

Menurut hasil catatan penulis terhadap perkembangan situasi dan kondisi keamanan di Provinsi NAD mulai Mei s/d Juli 2007 baik melalui sumber media massa ataupun sumber lainnya, tercatat bahwa aksi kriminalitas di bulan Mei terjadi sebanyak 79 kali, bulan Juni mengalami peningkatan sebanyak 90 kali dan bulan Juli 2007 “turun” sebanyak 70 kali.

Kasus-kasus atau aksi kriminal yang menonjol antara lain ancaman/intimidasi/teror, pemukulan/penganiayaan, pemungutan pajak nanggroe, pencurian/perampokan/perampasan, provokasi, perkelahian/perselisihan dan pembakaran, seperti tergambar berikut ini :

 

No

Jenis Kegiatan

Bulan Mei

Bulan Juni

Bulan Juli

1

Pemaksaan

1

0

3

2

Pengancaman/Intimidasi/Teror

10

19

7

3

Pemukulan/Penganiayaan

12

13

12

4

Pajak Nanggroe

16

13

9

5

Pemerasan

3

2

0

6

Pencurian/Perampokan/Perampasan

10

17

14

7

Pembunuhan

1

7

2

8

Provokasi

4

2

6

9

Sweeping

2

1

1

10

Perkelahian/Perselisihan

4

4

4

11

Penyanderaan/Penculikan

3

4

3

12

Penembakan/Letusan Senjata

2

1

3

13

Perusakan

5

3

1

14

Pembakaran

1

0

2

15

Penggalian kuburan korban konflik

0

2

2

16

Penangkapan

2

2

0

17

Peledakan

3

0

1

 

JUMLAH

79

90

70

 

Maraknya aksi-aksi kriminal baik yang dilakukan secara berkelompok, termasuk kelompok yang kecewa dengan perdamaian di Aceh memang harus diwaspadai dan dijadikan “musuh bersama” oleh masyarakat Aceh.

Menurunnya jumlah aksi kriminalitas pada bulan Juli 2007 dibandingkan dengan bulan Mei apalagi Juni 2007 tidak bisa langsung disimpulkan bahwa kondisi keamanan di Aceh sudah kondusif dan aman.

Memang benar saat ini sudah tidak ada kontak tembak atau perang antara TNI/Polri vs GAM di Aceh, namun maraknya provokasi, intimidasi, teror, penembakan, pemungutan pajak nanggroe, perampasan/pencurian dan lain-lain juga tidak kalah serius dampaknya terhadap citra dan image masyarakat Aceh. Dibandingkan dengan Jakarta dan Sumatera Utara, memang aksi kriminalitas di Aceh lebih rendah. Namun, tidak adil membandingkan ketiga Provinsi ini dalam soal kriminalitas yang terjadi, sebab jumlah penduduk di Aceh hanya 4,5 juta jiwa, sedangkan jumlah penduduk di Jakarta maupun Sumatera Utara lebih dari 15 juta jiwa.

Di samping itu, “menurunnya” angka kriminalitas yang terjadi di Aceh pada bulan Juli 2007, bisa jadi disebabkan karena para “trouble maker/pembuat masalah” ini ingin “menghormati” peringatan MoU Helsinki dan HUT Kemerdekaan RI di Aceh, namun dapat diprediksikan tingkat gangguan kamtibmas termasuk kriminalitas bersenjata akan meningkat di Aceh pasca peringatan MoU Helsinki ataupun HUT Kemerdekaan RI ke-62.

Apa alasannya? Sampai saat ini warga Aceh khususnya yang di daerah pedalaman atau tertinggal, adalah obyek yang selalu sering menghadapi intimidasi dari kelompok manapun, karena memang di daerah pedalaman Aceh belum seaman dibandingkan di kecamatan apalagi kota seperti Banda Aceh. Bahkan, di Banda Aceh setidaknya ada 3 kasus kriminalitas bersenjata yang terjadi belum lama ini. Karena faktor maraknya intimidasi dan ketakutan masyarakat untuk menjadi saksi apalagi melaporkan aksi kriminal, yang menyebabkan aksi kriminal di Aceh lambat untuk ditangani.

Oleh karena itu, tidak ada kata lain bagi keseluruhan masyarakat Aceh yaitu untuk meningkatkan keberanian secara kolektif untuk menolak dan melawan intimidasi, teror, provokasi dan pemungutan pajak nanggroe. Ini penting dan ternyata dari beberapa event yang diamati penulis bahwa jika masyarakat bersatu padu melawan kejahatan, maka pelaku kejahatan akan ketakutan.

Di sisi yang lain, langkah penegakkan hukum yang dilakukan oleh aparat yang berwewenang harus ditingkatkan termasuk menggerakkan roda perekonomian agar terbuka lapangan kerja.

Menurut Irwandi Yusuf (Gubernur NAD), ada dua cara untuk mengatasi pemungutan pajak nanggroe di Aceh ataupun menurunkan aksi kriminalitas di Aceh yaitu penegakkan hukum yang tuntas dan tegas, serta membuka lapangan kerja.

Apa yang dikemukakan Irwandi Yusuf tersebut benar, dan seharusnya cepat direalisasikan agar teror, intimidasi, provokasi, penembakan, perampokan dll tidak menjadi “kado istimewa” menyongsong 2 tahun kelahiran MoU Helsinki, yang harus diakui sebagai “berkah tersendiri” bagi masyarakat Aceh secara keseluruhan, termasuk bekas kombatan.

 

Tgk Bustaman Al Rauf

*) Penulis adalah pemerhati masalah Aceh serta masalah Kamtibmas. Tinggal di Kabupaten Bireuen.

Sumber : WIKIMU

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Satu Tanggapan to “Pajak Nanggroe, Teror, Intimidasi dll, Sebagai Hadiah MoU Helsinki”

RSS Feed for FOMAPAK Comments RSS Feed

Semoga dapat diselesaikan dengan damai.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: